Gemuruh Cinta di re:publica & Media Convention Berlin 2017

Oleh: Gustaff Harriman Iskandar (SR 93)
Dimulai dari kegiatan kumpul-kumpul yang melibatkan sekitar 300 blogger pada sekitar 10 tahun yang lalu, re:publica & Media Convention Berlin saat ini telah berkembang menjadi salah satu konvensi media tahunan terbesar di Eropa. Menurut Katerin Proshchek dari icebauhaus, awalnya re:publica hanya fokus pada perbincangan tentang media & demokrasi dalam konteks perkembangan sosial & politik. Sekarang, ajang ini menjadi wahana yang merefleksikan berbagai gagasan & pemikiran yang beragam, mulai dari refleksi kritis tentang dinamika sosial & politik, demokrasi & kebebasan berekspresi, sampai dengan perkembangan di bidang seni, budaya, kreativitas, serta inovasi di bidang pemanfaatan teknologi media.

Konvensi ini dibuka secara resmi oleh Michael Müller, walikota Berlin pada 8 Mei 2017 di Station Berlin. Pesan “LOVE OUT LOUD” yang menjadi tema konvensi mencerminkan semangat pemanfaatan media sebagai instrumen untuk merawat & mendorong tegaknya prinsip-prinsip kesetaraan, kebebasan & keberagaman. Saat ini tampaknya penyebaran pesan kebencian & berita bohong melalui media menjadi fenomena global yang semakin meluas. Teknologi informasi & media digital yang semula merupakan instrumen untuk menyebarkan pengetahuan & informasi bergeser menjadi alat yang digunakan untuk menyebarkan kebohongan, terror & rasa takut. Kini perkembangan & pemanfaatan teknologi media seakan menjadi pisau bermata dua. Media adalah corong yang menyuarakan kebebasan di satu sisi, namun juga menjadi alat kekuasaan yang membelenggu di sisi yang lain.
Dalam sambutannya pada saat pembukaan, Michael Müller menyatakan bahwa inilah saatnya rasa cinta akan kebebasan, kesetaraan & keberagaman digaungkan melalui penggunaan teknologi media agar terror & ketakutan tidak mendominasi keseharian kita. Sesaat setelah pembukaan, ajang re:publika & Media Convention Berlin 2017 menampilkan beberapa pembicara kunci yang membahas fenomena terkini dari perkembangan & pemanfaatan media di beberapa negara dalam pengertian luas. Salah satunya adalah Can Dündar, seorang jurnalis asal Turki yang saat ini menjadi warga eksil di Jerman. Ia adalah pimpinan redaksi Cumhuriyet yang memberitakan aktivitas lembaga intelejen Turki (Millî İstihbarat Teşkilatı) yang penyelundupan senjata untuk pemberontak Islamis di Syria pada 2014.
Akibat dari laporannya, pada November 2015 ia dipenjara atas tuduhan membocorkan rahasia negara. Karena keberanian warga sipil & solidaritas para jurnalis Turki, ia berhasil dibebaskan hingga akhirnya hidup di pengasingan. Karena keteguhan memperjuangkan kebebasan pers, Can Dündar mendapatkan International Press freedom Award dari Committee to Protect Journalists (CPJ) pada 2016. Dalam paparannya di ajang re:publica & Media Convention Berlin, ia mengungkapkan bagaimana Recep Tayyip Erdoğan memanfaatkan kekuasaan untuk membungkam kebabasan pers demi melanggengkan kekuasaan & kepentingan politiknya di Turki. Namun begitu ia juga menyerukan bahwa terror & rasa takut atas tekanan penguasa hanya bisa dilawan dengan keberanian & keteguhan untuk mengungkap kebenaran.
Pandangan yang reflektif juga disampaikan oleh Carolin Emcke, seorang penulis & jurnalis penerima Peace Prize of the German Book Trade 2016. Dalam paparannya, definisi tentang cinta saat ini lebih sering dimaknai secara sepihak & berkonotasi heteroseksual. Bahkan sampai sekarang, kaum homoseksual di Jerman masih sulit untuk mengungkapkan rasa cinta & kasih sayang secara terbuka. Bagi Emcke, ekspresi cinta di kalangan masyarakat yang menghargai pluralisme tidak perlu disampaikan dengan menggebu, namun cukup dengan cara saling menghargai perbedaan & jarak antar kelompok warga. Eksresi cinta yang disampaikan dengan cara yang menggebu & berlebihan menurutnya bisa menjadi sebentuk tekanan yang menakutkan bagi kelompok yang liyan.
Menurut informasi dari penyelenggara re:publica & Media Convention, kegiatan tahun ini sekurangnya melibatkan lebih dari 1000 pembicara yang berasal dari 65 negara.
Adapun topik yang diperbincangan sangat luas, mulai dari perkembangan politik terkini, seni & budaya jejaring, pekerjaan di masa depan, mobilitas, pendidikan & layanan kesehatan digital, dsb. Semua dipaparkan di atas sekitar 20 panggung yang bergema secara simutan sejak 8-10 Mei. Sementara itu, Media Convention Berlin (MCB) selama tiga hari berturut menyoroti kebijakan di sektor media & internet, trend pasar, serta perkembangan masyarakat digital. Seiring dengan itu, ajang ini juga menampilkan pameran seni & inovasi, lokakarya, serta ajang pertemuan antar komunitas yang beragam.
Keriuhan re:publica & Media Convention Berlin bertambah dengan gelaran Global Innovation Gathering (GIG) yang menjadi ajang pertemuan para peretas (hacker), seniman, desainer, aktivis, para inovator & mereka yang aktif dalam proses perubahan serta inovasi sosial. Selama tiga hari berturut, GIG menggelar seminar, diskusi, lokakarya, serta ajang perjumpaan & pengembangan jejaring komunitas pembaharu dari berbagai negara. Di lokasi utama re:publica & Media Convention Berlin, GIG mendirikan Makerspace yang memungkinkan khalayak untuk melihat & mengalami berbagai bentuk pemanfaatan teknologi bagi proses penciptaan & inovasi. Setiap malam, ajang re:publica & Media Convention Berlin juga diramaikan oleh pesta & konser musik yang menampilkan para DJ, seniman multmedia & musisi dari berbagai belahan dunia.
Seru & keren pisan euy!
Berlin, 9 Mei 2017
*Penulis adalah seniman. Bekerja untuk Common Room Networks Foundation
sumber: kumparan.com
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s